
Di era digital seperti sekarang, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hampir setiap saat kita bisa melihat unggahan teman yang sedang liburan, mengikuti kegiatan organisasi, menghadiri seminar, atau bahkan sekadar berkumpul bersama teman-temannya. Tanpa disadari, hal tersebut dapat menimbulkan perasaan ingin selalu ikut serta dalam setiap aktivitas yang sedang terjadi. Fenomena ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out (FOMO).
Fomo merupakan perasaan takut tertinggal atau khawatir tidak mengetahui pengalaman menarik yang sedang dialami orang lain. Seseorang yang mengalami fomo biasanya merasa harus selalu terhubung dengan media sosial agar tidak ketinggalan informasi terbaru. Akibatnya, mereka sering mengecek ponsel secara berulang, merasa cemas ketika tidak membuka media sosial dalam waktu tertentu, dan sulit merasa puas dengan kehidupannya sendiri.
Di kalangan mahasiswa, fomo cukup sering terjadi. Banyak mahasiswa merasa harus mengikuti berbagai kegiatan, tren, atau pencapaian yang dilakukan teman-temannya. Ketika melihat orang lain memperoleh prestasi, aktif berorganisasi, atau memiliki kehidupan yang terlihat menyenangkan, muncul perasaan bahwa diri sendiri kurang berkembang dibandingkan orang lain. Padahal, apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya.
Fomo dapat memberikan dampak negatif apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya rasa cemas dan stres. Seseorang bisa merasa tertekan karena terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Selain itu, fomo juga dapat mengganggu konsentrasi belajar karena perhatian lebih banyak tertuju pada media sosial daripada tugas atau aktivitas yang sedang dikerjakan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan kepuasan terhadap diri sendiri.
Meskipun demikian, fomo dapat diatasi dengan beberapa cara sederhana. Pertama, membatasi penggunaan media sosial dan menggunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Kedua, belajar untuk fokus pada tujuan dan perkembangan diri sendiri tanpa harus selalu membandingkan diri dengan orang lain. Ketiga, menyadari bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda sehingga tidak perlu merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain.
Pada akhirnya, media sosial seharusnya menjadi sarana untuk memperoleh informasi dan menjalin hubungan dengan orang lain, bukan menjadi sumber kecemasan. Dengan mengelola penggunaan media sosial secara bijak dan meningkatkan rasa syukur terhadap apa yang dimiliki, seseorang dapat terhindar dari dampak negatif fomo serta lebih fokus dalam mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan tujuan yang dimiliki
No responses yet